Postingan

Hari Kartini: DOOR DUISTERNIS TOT LICHT

Gambar
Raden Ajeng Kartini bertanya akan makna sebuah ayat al-Qur'an pada guru ngajinya. Gurunya marah. Kartini tidak puas. Hasratnya untuk belajar begitu menggebu, tapi apa daya ia tak pandai bahasa Arab, sementara pada masa itu penerjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa non-Arab masih dipersoalkan oleh sejumlah ulama. Beruntung pada suatu waktu Kartini menyimak pengajian KH Sholeh Darat. Maka Kartini pun terpukau. Ia memohon ijin menemui Sang Kiai. Di depan beliau, Kartini mengatakan: "Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami." Kiai Sholeh Darat bukan sembarang Kiai. Beliau adalah guru dari KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari. Sanad keilmuan pendiri Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama bertemu salah satunya pada samudera keilmuan dan kearifan Kiai Sholeh Darat. "perkenankan saya be...

Problem Anak Rantau: Susahnya Menghubungi Orang Tua

Gambar
Dibanding teman-teman masisir seangkatan, mungkin saya termasuk yang jarang curhat ke orang tua. Boro-boro curhat, kontakan aja jarang. Sejak bertolak ke Mesir pada bulan Agustus 2015 lalu, baru tiga kali saya telepon rumah. Terakhir telepon bulan Desember tahun lalu, itupun ngobrol panjangnya cuma ke dek Difah yang waktu itu lagi liburan pondok. Itu berarti sekitar empat bulan yang lalu (fyi: saya menulis ini pada April 2016). Setelah itu belum pernah lagi. Biasanya orang gak langsung percaya, masak sih jauh-jauh sampai Mesir begini gak pernah kontakan? Secara zaman udah canggih. Gak perlu mikir pulsa telepon yang mahal, wong aplikasi chatting sekarang udah dilengkapi fitur free call - video call.  Masalahnya, meskipun saat ini di rumah sudah ada smartphone (itupun baru beli bulan Desember), tapi kan sama saja kalau orang rumah gak paham bagaimana menggunakannya. Sepertinya mereka masih bingung dengan konsep akun, hitung-hitungan paket data, volume data, masa aktif, dan lain...

Pengganti Orang Tua Sementara (Bagian 2) -Selesai-

Gambar
(NB: Ini adalah cerita sambungan dari bagian 1 , baca dulu yaa..) Akhirnya kabar yang aku tunggu-tunggu tiba. Umi mengabarkan bahwa tanggal keberangkatanku ke Mesir sudah ditentukan, yaitu dua minggu lagi. Aku terkejut bukan main, sebab menurut perkiraan aku baru akan berangkat sebulan lagi. Itu berarti waktuku di Solo tinggal seminggu lagi. Karena seminggu sebelum keberangkatan aku harus sudah pulang ke rumah untuk persiapan segala sesuatunya. // Ketika kuberitahu bahwa aku akan pulang sebentar lagi, Difah memintaku untuk memintakan izin kepada pengasuhan supaya dia bisa ikut pulang. “Ngapain ikut pulang??” tanyaku heran. “Biar bisa ikut nganter Mbak Latif ke bandara lah.. Kan, habis ini gak bisa lihat Mbak  lagi…” jawabnya sungguh-sungguh. Aku takjub mendengarnya, dan dalam hati terharu sekaligus menyetujui ide tersebut. Tapi ongkos bolak-balik Solo-Bekasi sama sekali tidak sedikit. Belum lagi kecilnya peluang izin untuk pulang. Apalagi dia masih anak baru. Kha...

Pengganti Orang Tua Sementara (Bagian 1)

Kuberitahu ya, bahwa tokoh yang jadi santri dalam cerita ini bukan aku sendiri, melainkan adikku, sebut saja Difah. Sebetulnya kami sama-sama  nyantri  di pondok yang bersebelahan dengan masjid Tegalsari itu. Perbedaanya tentu saja tahun masuk, karena selisih usia kami cukup jauh, hampir sembilan tahun. Dia baru kelas satu KMI setelah aku menyelesaikan kewajiban pengabdianku setahun. Mengapa aku yang menuliskan kisah Difah? Karena aku yang jadi saksi anak itu dari awal mendaftar hingga akhirnya resmi menjadi santriwati. Aku masih dalam pengabdian saat Difah kelas enam SD. Beberapa kali Ibu mengajakku dialog soal pondoknya nanti. Jujur, aku tidak terlalu berharap dia masuk pondok yang sama denganku. Kenapa? Ya gak pengin aja. lagipula saat itu aku juga masih bingung antara melanjutkan mengabdi atau pindah. Kalau aku menetap, selesai urusan. Karena aku bisa dipercaya mengawasinya selama mondok. Berbeda kalau pindah, bakal sulit karena rumah jauh dari pondok dan juga belum yaki...

Kairo Rasa Jogja

Gambar
Cairo highway at night. Sumber foto  di sini Jalan raya Kairo malam hari tak ada bedanya dengan jalan-jalan di Yogyakarta maupun Jakarta. Jalan layang, lampu remang, kendaraan tak berbilang. Bis yang aku naiki kadang ngebut ketika kondisi lengang. Persis mengingatkanku pada perjalananku membelah Kota Yogyakarta malam hari, beberapa bulan yang lalu. Perjalanan yang gak mungkin kulupakan. Kenapa? Karena itu langkah pertamaku ke negeri Kinanah ini...