Postingan

Menampilkan postingan dengan label kilas

Tantrumnya Anak (yang sudah) Besar

Akhir-akhir ini, karena mempelajari sedikit tentang parenting, apa saja masalah manusia, mau akademik, sosial, finansial, sampai cinta, kuhubungkan akar dan solusinya dengan analisa parenting. Dari lingkungan seperti apa dia dibesarkan. Bagaimana kira-kira orangtua atau orang terdekatnya memperlakukannya. Pengalaman apa yang membekas di dirinya sampai menjadi seperti itu. Yah gitu-gitu lah, walau jatuhnya jadi lebih mirip cocoklogi, sih. Satu contoh, kejadian beberapa hari yang lalu. Salah satu anak didikku tantrum, karena marah setoran tahfiznya terus menerus kukoreksi. Dia masuk kamar mandi, mengunci menangis meraung sambil membanting-banting gayung di air selama hampir satu jam.

Pengalaman Mengatur Finansial (2021)

Jelang akhir tahun, yang paling terasa mengubah hidupku itu belajar perduidan. Nama kerennya perencanaan finansial. Benar-benar baru tahu apa itu tujuan keuangan, gimana skala prioritas tabungan, apa itu investasi. Baru merasakan uang elektronik, yang bayarnya tap kartu. Ada lagi dompet digital, yang bayarnya tinggal select ok. Kadang gumun, canggih betul, aku yang belum punya rekening bank aja merasakan cashless. Terus mulai terbiasa top up karena sering belanja online. Tiap belanja tuh segala mode pembayaran dicoba, oh begini, ho begitu. Tapi yang investasi itu belum pernah terlaksana karena belum punya e-ktp dan rekening, nabung bulanan saja masih pake amplop surat. Ampe lecek amplopnya, kunamai sesuai bulan, ditambah jimat Umar al-Faruq. Ikut-ikutan teman saja sih. Berdoa semoga amplopnya gak dikenali tuyul. Konon mereka suka ngambil selembar-selembar tanpa terasa. Maka tiap bulan juga aku menghitung ulang isi amplop. Setiap kali utuh, kututup hati-hati seperti meletakkan bayi. Sam...

Pembeda Santri Pondokan dari yang Bukan

Gambar
Ini komplek asramaku waktu nyantri dulu Aku ingat waktu umur 7 tahun pernah diajak berkunjung ke pesantren tempat ibukku dulu nyantri. Sebuah pesantren yang cukup besar di Jawa Timur, dan aku masuk ke rumah-rumah bagus. Belakangan kuketahui ibuku dulu seorang abdi ndalem, dan yang kukunjungi adalah keluarga ndalem tempat ibuku berkhidmat. Jauh sebelum itu, bapak beberapa kali membawaku ke pesantren tidak jauh dari rumah. Aku belum sekolah waktu itu, cuma ingat menunggu bapak sambil main ayunan. Ustadznya senang melihatku yang masih kecil tapi ngajinya sudah quran (aku pamer sudah tamat iqra). Beliau menghadiahiku mushaf quran per-juz dan mendoakanku bisa menghapalnya. Pertamakali kulihat mushaf terpisah-pisah seperti itu. Tahun 2000 kayaknya masih jarang orang punya mushaf per juz. Hidup menyaksikan santri sejak kecil, membuatku tidak menyadari elemen muslim selain santri sampai dewasa. Penyebabnya karena keluargaku, lingkungan, tempat tinggal, eman mainku, homogen, itu-itu saja. Sound...

Obituari Palek Anto

Gambar
Aku mau cerita tentang Palek (=bahasa Jawa untuk menyebut adiknya bapak). Kuberitahu, cerita ini panjang. Kalau mau tahu intinya, skip langsung baca bagian terakhir saja. Tiga hari yang lalu Palek jatuh koma dan masuk RS. Kami sekeluarga besar terkejut. Sesuatu yang buruk mengenai otaknya, hingga butuh operasi bedah otak. Sedihnya, waktu palek ambruk di luar rumah, tidak langsung ditolong orang. Palek dibiarkan di tempat sampai setengah jam kemudian, karena orang-orang takut itu corona. Palek adalah simpul penjaga, rekonsiliator. Yang berinisiatif membuat grup wasap keluarga besar Pacitan (garis bapak) sejak awal-awal wasap trending, mengumpulkan seluruh saudara kandung, keponakan, paman dan sepupunya. Memasukkan kembali anggota yang left karena berdebat. Yang menetralkan suasana grup kalau lagi panas (apalagi musim pemilu kemarin). Pokoknya, Palek mau repot-repot menjaga silahturahmi kami. Palek rajin mengirim pesan apapun bentuknya di grup keluarga besar, entah meme, doa, video lucu,...

Berpisah untuk Bertemu Lagi

Gambar
"Semoga kita bisa bertemu lagi ya, Latifah", kata Fatimah, temanku Misriyah yang fasih dalam bahasa Indonesia. "Insyaallah, suatu saat", entah gimana a ku terkejut dengan jawabanku sendiri. Kalimat template yang harusnya optimis ini mendadak terasa gamang. Hari itu hari terakhir di kuliah, dan kami berjanji akan saling mengunjungi jika nanti datang ke negeri masing-masing. Tidak ada yang meragukan bahwa kami sudah jatuh hati dengan negeri satu sama lain. Aku pernah bercanda bahwa kita hampir bertukar kebangsaan. Mengingat dia sudah jalan-jalan di Indonesia lebih jauh daripadaku, dan sebaliknya, aku sudah jalan-jalan di Mesir lebih banyak daripada dia Jarak Mesir-Indonesia memang jauh, tapi cinta akan membawamu kembali, begitu kata Anggun C Sasmi. Dan aku senang. Di bumi ini, ada yang siap menyambut kapanpun aku kembali

Siapa Nama Ibumu?

Kali ini saya ingin mengenang para wanita di atas saya. Para ibu yang menurunkan ibu lagi hingga lahirlah saya. Tapi sedihnya, karena keluarga saya orang biasa saja --bukan konglomerat atau darah biru, jadi tidak ada tradisi mencatat garis keturunan. Maka terhentilah pengetahuan saya hanya pada wanita dua generasi di atas saya. Ibuk dan mbah putri. Iseng saya tanya Ibuk lewat wasap. Buk, waktu Ibuk lahir, masih ada nenek gak? (yang berarti simbah buyutku) Kata Ibuk. Waktu Ibuk lahir masih kayaknya. Tapi nenek yang dari bapak meniggalnya waktu Ibuk masih balita, Ibuk lupa-lupa ingat. Kalau yang dari emak meninggalnya waktu Ibuk sekitar SD. Ya Allah. Saya baru tahu ibuku tidak sempat merasa punya nenek, karena sudah ditinggal mbah dari kecil. Apalagi gak ada bukti foto. "Nama beliau siapa ingat gak buk?" Tanyaku mengejar. "Nenek dari bapak namanya Mbah Sar. Kalau gak salah panjangnya Sarmini. Nenek dari emak namanya Mbah Sumijah. Entahlah ibuk lupaa." Mendadak saya me...

Inspirit Mode

Gambar
(Refleksi Pribadi sebagai Pengagum Boygroup Infinite) Kapan saja saya selesai ujian semesteran kuliah, cara mengembalikan mood untuk kembali beraktivitas lain adalah dengan menyalakan laptop dan melihat kembali video boyband Korea favorit. Namanya barangkali asing bagi penggemar K-pop sekarang: Infinite dari Woolim ent. Saya punya banyak video Infinite dari berbagai segmen, mulai dari movie clip, live concert, dance practice, behind the stage, talk show, reality show sampai cuplikan kegiatan sehari-hari. Kalau kurang ya tinggal sambang Youtube. Meskipun saya punya puluhan lagu mereka di ponsel, namun menonton mereka punya kesan tersendiri. Dan kesan menonton inilah yang saya rasakan terus berubah, seiring bertambahnya usia. Dulu pas masih SMA, saya mengidolakan mereka karena mereka keren banget. Persepsi saya tentang mereka tidak lebih seperti mengagumi robot rupawan dengan cap brand tertentu. Sebagaimana fangirl muda lainnya, waktu itu saya cuma takjub dengan 'kesempurnaan'. K...

Ribetnya Berbohong dan Basa-basi Aneh Soal Status

Gambar
Abaikan model manusia itu, lihat saja taksinya. Hari itu pertama kalinya aku naik taksi sendiri H10-Darasa. Sendirian. Lewat seperempat perjalanan, Pak Supir bertanya apakah saya ingin jalur Sadis atau Shalah Salim. Saya memilih yang lebih cepat. Setelah itu percakapan kami bermula. Pak Supir mengawalinya dengan kebiasaan basa-basi orang Mesir yang menurut saya ajaib, yaitu menanyakan status pernikahan mahasiswa asing. Pak Supir: "Kamu sudah menikah?" Latifah: "Belum." (Menggeleng)

Habis Ujian Terpikirlah Jalan-jalan

Gambar
Akhirnya, masa-masa ujian saya selesai juga. Saatnya liburan!! Ini adalah postingan pertama saya di tahun 2017. Sebenarnya pengen ih nulis pas genap dua tahun umur blog saya ini. Tapi kan, saya lagi ujian… hehe. Jadi, urusan selain belajar, lewaattt…. Sampai saat ini, tiap kali ngomongin soal liburan, yang terlintas di benak saya pertama kali adalah: PIKNIK. Alias jalan-jalan. Padahal saya juga paham, kalo liburan tuh gak mesti piknik. Cuman, kayak udah kekonsep gitu, sejak zaman sekolah dasar dulu, rumusnya kalo lagi liburan pasti diisi dengan jalan-jalan. Walaupun sebenarnya saya gak selalu jalan-jalan. masih inget banget saya liburan kenaikan kelas di rumah aja, gak kemana-mana padahal dua minggu liburannya. Hoho kasian sekaliihh… Sebenarnya, jalan-jalan itu penting, katanya. Banyak banget sebaran-sebaran di grup chat cerita-cerita orang yang intinya: kamu harus jalan-jalan!

Titik Awal

Malam ini aku bermimpi aneh. Perasaanku seperti dibawa mundur beberapa bulan ke belakang. Ke saat aku masih di Indonesia, bersiap-siap ke negeri Piramida. Padahal jelas- aku sudah hampir dua tahun di sini. Bedanya, dalam mimpi tersebut aku benar-benar merasa bahwa aku tak akan kembali lagi. Ku bawa barang kesayanganku sebanyak-banyaknya. Baju, buku, apapun. Memutar kembali episode paling mellow dalam hidupku. Sedikit banyak mimpi ini menamparku, mengingatkanku pada titik awal sebab keberadaanku di sini. Bahwa senyaman apapun aku di sini, tetap saja, ini bukanlah rumahku. Suatu saat aku akan kembali, ke tempat asal. Kalau masih bersantai-santai, kenapa harus jauh-jauh? Di rumah saja bisa kok. Belajarlah, Tip. Itu prioritas pertama seluruh masisir. Diakui maupun tidak. Banyak hal yang membelokkan, tanpa terasa.

Kalo Kata Latip sih Jalan-Jalan

Lagi-lagi rumah dunia maya saya ini tinggalkan bersuwung. Kau tau suwung? Itu lho, sarang laba-laba. Lihat nih, debunya saja sudah bisa dipakai tayammum. Hahaha. Ditanya soal paket internet mah saya ada terus. Maklum aktivis, hapenya sesibuk orangnya. Jadi pulsa dan paketan harus selalu stand by. Masalahnya, karena sibuk itulah, jadi males buat update blog. * halah alesan... Oke fine, itu emang cuma alesan. Aslinya mah emang males. Padahal pas masih di Indo, pengen banget rutin ngupdate. Paling enggak, tiap habis jalan-jalan laah... Lah ini, jalan-jalan udah kemana aja tetep gak disentuh rumah mayanya. Eh? Jalan-jalan? *ohh Latip jalan-jalan gak ngajak-ngajak nih? Ett.. Saya gak kemana-mana yang wah kok. Selama tahun kedua saya di Mesir, Agustus sampai Desember, ini beberapa tempat yang saya kunjungi. 1. Ke Alexandria bersama kawan-kawan LSGP. Mengunjungi Pompey pillar dan kuburan bawah tanah -aku lupa namanyaaa-😂. 2. Paradise Island, Hurghada dengan keluarga PPR (aku pernah cerita te...

Catatan Seorang Notulis

Gambar
Di sela-sela kantuk dan bosan, saya ketik selingan ini... sembari tenggelam dalam derita yang saya  buat sendiri, karena mengajukan diri sebagai notulis sebuah acara yang berlangsung sampai larut malam. Diam-diam saya memperhatikan kembali wajah teman-teman sesama panitia. Gurat-gurat lelah dan kantuk sangat jelas tergambar di raut mereka. Ada yang duduk mojok sambil mainan hape. Ada yang ngobrol dengan orang sebelahnya. Ada yang bermain bercanda dengan kawan sebelahnya. Ada yang foto-foto sendiri. Ada juga yang masih semangat mondar-mandir menyiapkan segala kebutuhan acara. Sedangkan saya, justru terjebak malang di sini. Duduk sendirian, di dekat orang-orang hebat sebenarnya, namun tidak dianggap. Diam-diam aku menyesali keputusanku memilih tugas ini, yang cuma gara-gara penasaran. Sudahlah, saya kapok, besok-besok gak mau pilih kerjaan ini. Hahaha... Berhubung ini hari terakhir kepanitiaan kami, saya jadi terkenang beberapa hari kami bekerja sama seperti ini. Begitu...

Panitia Pemilu Raya: Di Balik Layar Sebuah Pemilihan

Bulan puasa sudah lama lewat. Euforia simposium PPI dunia juga sudah usai. Kepengurusan PPMI dibawah pimpinan Bang Gobe sudah hampir satu tahun. Saatnya meneruskan estafet kepemimpinan PPMI. Saat aku diminta Mang Kime sebagai utusan KPMJB untuk Panitia Pemilu Raya (PPR) 2016, cuma satu di benakku  “ya ampuuun.. aku lelaah...”.  Apalagi waktu itu aku masih sibuk ngangklung untuk acara Simposium.  Tapi mau bagaimana lagi? Siapa lagi coba yang bisa membantu, sementara teman-teman yang lain kalau aku pikir, mereka lebih gak memungkinkan? Dan kalau aku sebenarnya bisa, kenapa enggak? Dan tidak  berapa lama kemudian muncul grup baru di WA ku, PPR 2016. Aku lihat daftar anggotanya, dan muncullah nomor-nomor asing yang belum pernah masuk kontak. Semakin masygul saja aku melihatnya, orang-orang baru ... dan aku bakal berurusan dengan mereka. Aduuuh... Setengah hati aku menerima amanat baruku itu. Keputusan yang seharian itu aku rutuk terus menerus. Sampai-s...

Pengganti Orang Tua Sementara (Bagian 2) -Selesai-

Gambar
(NB: Ini adalah cerita sambungan dari bagian 1 , baca dulu yaa..) Akhirnya kabar yang aku tunggu-tunggu tiba. Umi mengabarkan bahwa tanggal keberangkatanku ke Mesir sudah ditentukan, yaitu dua minggu lagi. Aku terkejut bukan main, sebab menurut perkiraan aku baru akan berangkat sebulan lagi. Itu berarti waktuku di Solo tinggal seminggu lagi. Karena seminggu sebelum keberangkatan aku harus sudah pulang ke rumah untuk persiapan segala sesuatunya. // Ketika kuberitahu bahwa aku akan pulang sebentar lagi, Difah memintaku untuk memintakan izin kepada pengasuhan supaya dia bisa ikut pulang. “Ngapain ikut pulang??” tanyaku heran. “Biar bisa ikut nganter Mbak Latif ke bandara lah.. Kan, habis ini gak bisa lihat Mbak  lagi…” jawabnya sungguh-sungguh. Aku takjub mendengarnya, dan dalam hati terharu sekaligus menyetujui ide tersebut. Tapi ongkos bolak-balik Solo-Bekasi sama sekali tidak sedikit. Belum lagi kecilnya peluang izin untuk pulang. Apalagi dia masih anak baru. Kha...

Pengganti Orang Tua Sementara (Bagian 1)

Kuberitahu ya, bahwa tokoh yang jadi santri dalam cerita ini bukan aku sendiri, melainkan adikku, sebut saja Difah. Sebetulnya kami sama-sama  nyantri  di pondok yang bersebelahan dengan masjid Tegalsari itu. Perbedaanya tentu saja tahun masuk, karena selisih usia kami cukup jauh, hampir sembilan tahun. Dia baru kelas satu KMI setelah aku menyelesaikan kewajiban pengabdianku setahun. Mengapa aku yang menuliskan kisah Difah? Karena aku yang jadi saksi anak itu dari awal mendaftar hingga akhirnya resmi menjadi santriwati. Aku masih dalam pengabdian saat Difah kelas enam SD. Beberapa kali Ibu mengajakku dialog soal pondoknya nanti. Jujur, aku tidak terlalu berharap dia masuk pondok yang sama denganku. Kenapa? Ya gak pengin aja. lagipula saat itu aku juga masih bingung antara melanjutkan mengabdi atau pindah. Kalau aku menetap, selesai urusan. Karena aku bisa dipercaya mengawasinya selama mondok. Berbeda kalau pindah, bakal sulit karena rumah jauh dari pondok dan juga belum yaki...