Postingan

Kita Masih (belum) Jadi Pelajar

1) Apa yang mau kita sombongkan; jika Imam An Nawawi menulis Syarh Shahih Muslim yang tebal itu sedang beliau tak punya Kitab Shahih Muslim? 2) Beliau menulisnya berdasar hafalan atas Kitab Shahih Muslim yang diperoleh dari Gurunya; lengkap dengan sanad inti & sanad tambahannya. 3) Sanad inti maksudnya; perawi antara Imam Muslim sampai RasuluLlah. Sanad tambahan yakni; mata-rantai dari An Nawawi hingga Imam Muslim. 4) Jadi bayangkan; ketika menulis penjabarannya, An Nawawi menghafal 7000-an hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim sekira 9-13 tingkat Gurunya; ditambah hafal sanad inti sekira 4-7 tingkat Rawi. 5) Yang menakjubkan lagi; penjabaran itu disertai perbandingan dengan hadits dari Kitab lain (yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya), penjelasan kata maupun maksud dengan atsar sahabat, Tabi'in, & 'Ulama; munasabatnya dengan Ayat & Tafsir, istinbath hukum yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi. 7) Hari ini kita mene...

Pemain Angklung

Gambar
SUATU hari di kelas, seorang teman asal Singapura bertanya: "Latifah, kamu pemain angklung ya?" Saya: "Iya, kenapa?" (waktu itu saya dan kawan-kawan memang masih latihan angklung untuk tampil di wisuda Al-Azhar) Teman saya: "Sama.. saya juga pemain angklung dulu pas masih di sekolah.." Saya keheranan, sambil membatin: Hah? Kalo Malaysia mungkin saya maklum.. ya tau sendiri lah soal isu-isu pengakuan hak milik angklung.. *eh?? Lah ini kan, Singapura? Seingat saya, kita gak ada masalah apa2 soal warisan budaya.. Tapi sebelum saya bertanya lebih lanjut dia justru menambahkan: "Bahkan saya main kulintang untuk acara perpisahan sekolah.." Jelas saya tambah heran. Lah? Tadi angklung sekarang kulintang? Seperti paham isi pikiran saya, dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah video. Isinya penampilan seni musik tradisional di acara kelulusan sekolah. Alat musiknya? angklung dan kulintang! Sudah, gabungan dua jenis itu saja. Tapi sa...

Gerimis Dua Bulan yang Lalu

Debu bercampur pasir mengepul terhantam butir air. Atap berderap, langit menggelap, angin menyergap. Gerimis membilas jalan-jalan dan lapangan. Hanya beberapa menit memang, namun sanggup mengunciku berjam-jam. Terjebak dalam lamunan. Mengenang banyak hal. Hari ini, tepat dua bulan yang lalu. Aku ingat, hari itu ia yang paling bersemangat menyiapkan segala barang yang akan ku bawa. Menanyakan aku kurang apa. Aku kurang apa. Merelakan mukena baru kesayangannya untukku. Memasak macam-macam bekal dan makanan yang menurutku tidak perlu. Menata isi koperku, sampai sandal dan sepatu. Namun malamnya, ia berubah. Seperti menahanku pergi, ia berkali-kali memeluk dan menciumku. Dasar kepala batu, aku hanya menanggapinya sambil lalu. Berpikir bahwa ini hanya perjalanan beberapa minggu. Dan hari ini aku teringat, Sederas gerimis sore inilah, air matanya saat melepasku. #Sore yang basah di Cairo, 29 Oktober 2015 -teruntuk: Ummî 

KAMU BENCANA ALAMKU

Siapa kamu??  Yang datang seperti petir Menyambarku menampar getir Blitz mu silau membutakan Jantungku lepas ke dasar bumi Siapa kamu?? Yang datang seperti badai Menghancurkan apa yang kubangun Mengobrak-abrik tanpa ampun Siapa kamu?? Kamu tak lain adalah bencana Ya, bencana alam pikiranku Namun jauh di balik itu, kehadiranmu adalah pelangi Perlahan tapi pasti Barisan warna berjejer rapi Berkilau menggetarkan hati

Baper Habis Lihat Wisuda

Gambar
Sebagai anak baru, aku melihat panggung wisuda hari ini sangatlah megah. Benar-benar sebuah kemewahan untuk dapat berjalan di atasnya.. memakai seragam hitam-putih khas Azharian beserta medali dan ijazah kelulusan... Wajah-wajah penuh kegembiraan kakak-kakak senior,, setelah bertahun-tahun berakit ke hulu perjuangan kini mereka berenang ke tepian.. Setiap dari mereka membawa beberapa ikat bunga,, berbagai macam rupa bentuknya.. Rupanya itu tanda ucapan selamat dari sahabat dan kerabat... tiap berjumpa dengan seseorang yang mereka kenal, pasti berjabat kemudian berpelukan erat.. Ah, betapa manis buah kesabaran itu.. Dan kemudian.. tanpa sengaja.. Benar-benar tanpa sengaja.. Secara tiba-tiba aku berharap.. esok kita bertemu di tempat ini... di panggung ini.. iya, aku dan kamu. Kita berdua. Sebagai wisudawan-wisudawati.. Kemudian aku akan memberikanmu ucapan selamat, yang terikat dalam kuntuman bunga warna-warni.. Seperti aku berharap, kamu memberikanku seikat bunga juga.. Se...