Postingan

Berpisah dengan Kota Rantauan Ternyata Berat Juga

Gambar
Ya Allah.. lama banget ya ane gak nulis di tempat ini.. jadi kangen.. Padahal selalu ada bahan buat nulis lo. Tapi ya biasalah, orang males, sok sibuk gituh. Mau nulis, ditunda. Padahal ya udah buka blog sendiri, udah buka tulis entri, eh macet. Sampai akhirnya, modem andalan plus satu-satunya punya ane hilang.  Cring, HOREE..!!!Tinggallah tutupnya doang.. Daripada bingung mau nulis materi apa yang berbobot tapi gak jadi mulu, mending nulis yang ringan-ringan aja, curhat misalnya, asal konsisten. Eh, betul kan?? Sekarang tentang kota yang ane tempati selama tujuh tahun terakhir... Kota Solo alias Surakarta. Walaupun saya tinggal di sini tidak selama saya tinggal di kota asal saya, Bekasi, tapi kalau suruh membandingkan mana yang lebih berkesan, saya akan menjawab Solo. Eh, apa Surakarta ya? Entahlah, bertahun-tahun saya di sini tapi belum juga bisa mbedakan antara Solo dan Surakarta. Kalo menurut saya mah, sama aja kali ya. Gak tahu yang lain... (sori sebelumnya yak, a...

Pelajar (tidak) Sama dengan Penuntut Ilmu

Ada beberapa istilah untuk menyebut seorang pelajar dalam bahasa Indonesia. Sebutan yang paling tua adalah murid. Istilah ini sudah dipakai sejak zaman penjajahan, di mana pondok-pondok salaf para kyai menyebut santri-santri mereka dengan sebutan tersebut. Tahukah anda bahwa kalimat murid itu ternyata berasal dari bahasa Arab, Ism Fa'il muriidun dari fi'l araada-yuriidu yang artinya "ingin". Maksudnya, seorang murid itu haruslah menjadi seseorang yang selalu menginginkan ilmu dan pengetahuan baru. Sebutan lainnya yang agak keren -menurut saya- adalah penuntut ilmu. Namun istilah ini lebih khusus untuk pelajar ilmu-ilmu agama Islam. "Penuntut" berasal dari bahasa Arab thalib, berasal dari fi'l thalaba-yathlubu yang berarti meminta atau menuntut. Maksudnya seorang pelajar, atau penuntut ilmu mestinya benar-benar menuntut, mencari kemana-mana dengan segala cara sampai dapat, bukan hanya menerima dari apa yang diberikan guru. Istilah penuntut ilmu ini sa...

CATATAN PENGABDIAN (Part.6) -Habis-

Kita sering semangat, tapi gak lama kemudian lesu lagi. Rasanya gak enak banget..Susah.. Gimana caranya supaya full semangat terus ? Well , satu hal yang harus kamu tahu, bahwa manusia itu wajar banget naik-turun. Sudah wataknya. Kalau netepp terus baiknya, ya bukan manusia lagi, itu malaikat. Jadi, gak usah merasa bersalah, apalagi putus asa. [huh,, jaga semangat aja gak bisa, apalagi bertahan lebih lama] Halah, lebai amat-- :D   toh bukan si 'semangat' yang bekerja, tapi KAMU. Yang punya 'semangat' kan KAMU, masak kamu dikendalikan oleh si 'semangat' itu. Terserah dia lagi "full" apa lagi "habis", kerjaanmu tetep harus FINISH. duh, kok kedengerannya ekstrim banget yak.. Haha, gak segitunya juga sih,, Yang pasti, jangan sampe turunnya semangat itu jadi alesan kamu untuk doing nothing. Mentang-mentang lagi lesu malah gak ngapa-ngapain. Yang penting, BERTAHAN SAJA. Jalani apa yang ada di depan mata.Gak usah mikirin lagi pe...

CATATAN PENGABDIAN (Part.5)

Suatu ketika, dua orang gadis berjilbab sedang bercakap-cakap. A : "Kamu tingkat berapa ?" B : "Sudah lulus, baru aja tahun ini" A : "Oh, udah rampung tho. Sibuk apa sekarang? Di mana?" B : "Ngabdi, mbak.. di Pondok ku kemaren.." A : "Wah, Ustadzah dong.." Huh. Mesti gitu. Pasti itu. Selalu. Semua orang yang kubilangin kalau aku lagi pengabdian, mesti responnya gitu. Gak jauh-jauh dari "Jadi Ustadzah dong", "Wah, Ustadzah nih..", dan sebagainya-semacamnya. Pertanyaan kemudian berlanjut menjadi : "Ngajar apa ?" Nah, aku senang sekali menjawab pertanyaan yang satu ini, "Bahasa Inggris, Mbak.." Ada semacam pride ketika aku memberitahu orang lain kalau anak mungil seperti aku ternyata bisa ngajar, hehe.. [Walau aslinya aku juga sering dibuat mashdu' jiddan sama hal-hal yang berkaitan dengan ngajar ini, :D] Tapi itu sih aku, gak tau ya kalau teman-teman pengabdian yang lain.. ...

CATATAN PENGABDIAN (Part.4)

Maaf, part.4 ini agak telat. Maklum, banyak urusan, hehe Masih ingat isi catatan saya yang part.2 ?? Tentang janji Allah kepada orang-orang yang berkorban dan berjuang.. Nah, Ustadz Sunardi menambahkan, bahwa janji Allah yang berupa pertolongan itu SERINGKALI didatangkan langsung DI DUNIA. Misal, sebenarnya kamu mau dapat musibah kehilangan uang sore ini, tetapi karena kebaikan (dalam hal ini = pengorbanan) yang kamu lakukan tadi pagi, maka Allah hindarkan musibah itu dari kamu. Atau misal lain, sebenarnya ibumu akan diberi sakit, tapi karena kamu pernah meminjamkan payung mu kepada orang yang kehujanan [maklum, sekarang kan musim hujan..] maka Allah angkat penyakit itu dari tubuh ibumu. Usth.Nunung, senior saya yang juga salah satu peserta rapat waktu itu bertanya, "Ustadz, sah gak sih kita memikirkan apa-apa pakai logika. Maksud saya, bukannya meragukan kuasa Allah ya, tapi gimana caranya kita yakin kalau sebenarnya Allah sedang menghindarkan musibah dari kita? ...