Postingan

Pengantar Belajar Hadis Arba'in Nawawi

Abu Zakariya Muhyiddin al Nawawi, Syeikh al Islam. Lahir tahun 631 H di Nawa, sebuah desa di Kecamatan Hauran, Syria. Pendidikannya dimulai dengan belajar al Qur-an di desanya dan berhasil menghapalkannya sebelum berusia baligh. Suatu ketika ada seorang syaikh yang bernama syaikh Yasin az-Zarkasyi (salah seorang ‘alim di zaman tersebut) yang melihat beliau membaca al-Qur’an. Kemudian beliau berwasiat kepada pengajar an-Nawawi dalam bidang al-Quran dan mengatakan, “Anak kecil ini diharapkan menjadi orang yang paling berilmu di zamannya, yang paling zuhud di antara mereka, dan manusia akan mengambil manfaat ilmu darinya.” Kemudian pada usia 19 tahun ia pergi bersama ayahnya “nyantri” ke Damaskus, yang menjadi pusat ilmu pada saat itu. Di sini ia belajar di madrasah al Rawahiyah. Ia seorang pelajar yang sangat tekun dan selalu mendampingi gurunya. Karena kecerdasan fikiran dan kemampuan hafalannya itu, ia sering ditugasi menjadi asisten gurunya. an-Nawawy pernah bercerita, “Aku tinggal di...

Saat Aku Mendoakan Orang Lain

Dulu, setiap hari aku menyebut paling tidak lima sampai sepuluh nama orang terpenting, dalam tiap kesempatan berdoa. (Selain orang tua tentu saja, kalau untuk mereka sih permanen). Nah 'durasi' tiap nama yang didoakan ini beda-beda, ada yang beberapa bulan, ada yang bertahun-tahun, ada yang sesuai reques. Banyak yang terkabul, tapi banyak juga yang tidak. Sekitar sebulanan ini, aku tidak menyebut nama banyak orang lagi. Kecewa karena banyak yang tidak terkabul. Baru-baru ini diingatkan, kualitas doa seseorang itu, tiada manusia yang bisa mengukurnya. Doa yang terkabul belum tentu lebih tulus ikhlas daripada yang tidak. Iya juga sih. Tiba-tiba aku berharap, ada bagian dari doa-doa itu kembali padaku seperti siklus hujan. Apa itu berarti aku tidak ikhlas? Entah. Lagi berharap doa saja dari siapapun Doa hanyalah cara Tuhan menitipkan kasih sayangNya kepada hati manusia Yang dengannya mereka mengasihi sesama tanpa perlu bersentuhan. Tak butuh syarat apapun. Gerak pelan dari lubuk k...

Mendoakan Orang yang Sudah Meninggal

Gambar
Sedikit cerita. Ada seseorang kerabat yang wafat. Aku menanggapinya biasa sebagaimana itu adalah siklus hidup. Beliau tidak dekat memang, kami jarang berinteraksi. Aku cuma yakin beliau orang yang baik, karena senang membantu sekitar dan tidak pernah menyusahkan siapapun selama hidupnya. Sampai suatu hari. Putrinya bertanya bagaimana cara membayar hutang salat dan puasa ayahnya. Karena ada yang mimpi ayahnya minta tolong (sebenernya ceritanya agak menakutkan, tapi intinya itu) Di situ aku mak deg. Campuraduk sedih. Iba. Takut. __________ Sunnah dari ulama kita terdahulu, memuji orang yang wafat, memberi kesaksian baik. Tapi mendengar cerita itu, ternyata takziyah dan berprasangka baik saja tidak cukup. Harus diiringi dengan betul-betul mendoakan. Pikiran seringkali menjalar. Satu orang berpikir A, sekampung bisa ikutan mikir A juga. Mikirnya, ah pasti udah ada orang lain yang doain. Minimal anaknya lah. Akhirnya kejadiannya malah gak ada yang berdoa, kecuali dalam acara tahlilan yang a...

Mengamati Anak Kecil

Tiap kali mengamati anak kecil, pikiranku bersedih, mengapa anak-anak ini mesti terlahir, jika nantinya hanya diserahkan pada ombang-ambing kehidupan Akankah bertemu teman dan guru yang baik di sekolah. Bagaimana kalau kesulitan di materi pelajaran.. Setelah lulus sekolah, tantangan zaman seperti apalagi yang harus dihadapi. Bagaimana keadaan dunia saat mereka dewasa nanti.. Apakah mereka bisa mempertahankan agama dalam diri mereka.. ......tanpa sadar aku memproyeksikan kecemasanku pada mereka. Betapa besar konsekuensi hadirnya manusia. Sampai aku tidak bisa bergembira lagi tiap mendengar berita kelahiran. Mengingat sulitnya perjalanan hidup di dunia ini. Aku kasihan pada ruh-ruh baru yang harus melewati daar balaa'. Bagaimana jika kami sebagai manusia senior, gagal memberi mereka bekal agar bisa mandiri dan selamat dunia akhirat? Setiap ruh manusia abadi di sisi-Nya. Aku hanya mencemaskan kepada siapa dititipkan ruh itu selama di dunia. Aku hanya berdoa dalam hati, semoga manusia-...

Tholabul 'Ilm: Usaha Belajar VS Berkah Khidmat

Guru kami, Syekh Husam Ramadan, pernah mengatakan, belum dikatakan pelajar sungguhan kalau belum pernah insomnia karena suatu masalah yang belum selesai dipecahkan. Lha kita, cuma baca kitab aja ketiduran. Ilmu Laduni, atau yang lansung diilhamkan Allah itu memang ada. Tapi ada syaratnya, dan jangan merasa berhak diberi, itu takabur namanya. Kata guru kami, ilmu itu hakikatnya buruan berat. Kita kerahkan seluruh diri saja, dapatnya hanya sebagian. Apalagi kalau hanya mengerahkan sedikit dari diri?  Belajar ilmu agama itu, tidak cukup hanya mengandalkan berkah adab dan khidmat lalu berharap dapat ilmu laduni tanpa capek-capek mikir. Lha kok enak? Ndak bisa begitu. Ilmu agama itu berat. Usahanya harus kencang, otak dan badan harus lelah. Tidak mungkin santai-santai meminum air bekas gurunya lantas mendadak jadi alim. Masalahnya, ada kecenderungan orang belajar agama (atau mengirim anaknya belajar) merapat pada tokoh yang dikenal keramat, baik itu habib maupun kyai, berharap mendapat ...

Tantrumnya Anak (yang sudah) Besar

Akhir-akhir ini, karena mempelajari sedikit tentang parenting, apa saja masalah manusia, mau akademik, sosial, finansial, sampai cinta, kuhubungkan akar dan solusinya dengan analisa parenting. Dari lingkungan seperti apa dia dibesarkan. Bagaimana kira-kira orangtua atau orang terdekatnya memperlakukannya. Pengalaman apa yang membekas di dirinya sampai menjadi seperti itu. Yah gitu-gitu lah, walau jatuhnya jadi lebih mirip cocoklogi, sih. Satu contoh, kejadian beberapa hari yang lalu. Salah satu anak didikku tantrum, karena marah setoran tahfiznya terus menerus kukoreksi. Dia masuk kamar mandi, mengunci menangis meraung sambil membanting-banting gayung di air selama hampir satu jam.

Pengalaman Mengatur Finansial (2021)

Jelang akhir tahun, yang paling terasa mengubah hidupku itu belajar perduidan. Nama kerennya perencanaan finansial. Benar-benar baru tahu apa itu tujuan keuangan, gimana skala prioritas tabungan, apa itu investasi. Baru merasakan uang elektronik, yang bayarnya tap kartu. Ada lagi dompet digital, yang bayarnya tinggal select ok. Kadang gumun, canggih betul, aku yang belum punya rekening bank aja merasakan cashless. Terus mulai terbiasa top up karena sering belanja online. Tiap belanja tuh segala mode pembayaran dicoba, oh begini, ho begitu. Tapi yang investasi itu belum pernah terlaksana karena belum punya e-ktp dan rekening, nabung bulanan saja masih pake amplop surat. Ampe lecek amplopnya, kunamai sesuai bulan, ditambah jimat Umar al-Faruq. Ikut-ikutan teman saja sih. Berdoa semoga amplopnya gak dikenali tuyul. Konon mereka suka ngambil selembar-selembar tanpa terasa. Maka tiap bulan juga aku menghitung ulang isi amplop. Setiap kali utuh, kututup hati-hati seperti meletakkan bayi. Sam...

Pembeda Santri Pondokan dari yang Bukan

Gambar
Ini komplek asramaku waktu nyantri dulu Aku ingat waktu umur 7 tahun pernah diajak berkunjung ke pesantren tempat ibukku dulu nyantri. Sebuah pesantren yang cukup besar di Jawa Timur, dan aku masuk ke rumah-rumah bagus. Belakangan kuketahui ibuku dulu seorang abdi ndalem, dan yang kukunjungi adalah keluarga ndalem tempat ibuku berkhidmat. Jauh sebelum itu, bapak beberapa kali membawaku ke pesantren tidak jauh dari rumah. Aku belum sekolah waktu itu, cuma ingat menunggu bapak sambil main ayunan. Ustadznya senang melihatku yang masih kecil tapi ngajinya sudah quran (aku pamer sudah tamat iqra). Beliau menghadiahiku mushaf quran per-juz dan mendoakanku bisa menghapalnya. Pertamakali kulihat mushaf terpisah-pisah seperti itu. Tahun 2000 kayaknya masih jarang orang punya mushaf per juz. Hidup menyaksikan santri sejak kecil, membuatku tidak menyadari elemen muslim selain santri sampai dewasa. Penyebabnya karena keluargaku, lingkungan, tempat tinggal, eman mainku, homogen, itu-itu saja. Sound...

Gambaran Diri yang Diinginkan

Gambar
Sejak tinggal dan mengajar di Tangerang, aku belum menulis status panjang lagi di Facebook. Entah karena kesibukan yang banyak, atau karena sering buntu buat mengolah endapan pikiran. Di sisi lain, aku juga masih menganggap tempat tinggal dan identitas anak-anak ini privasi. Setiap pengen cerita tentang mereka, kok gak sreg ya. Ya sudah, tunggu sajalah sampai nanti terasa nyaman buat cerita terbuka. Mendapat kesempatan mengajar, apakah aku berhasil memengaruhi anak-anak? Tentu saja belum, proses mendidik tidak pernah mudah. Tidak semua anak siap menerima gagasan-gagasan baru. Apalagi sebagian besar mereka berasal dari level ekonomi agak bawah, yang ibaratnya, boro-boro kuliah, lulus SMA aja udah untung. Setidaknya, aku berusaha untuk tidak menjadi pengajar yang membatasi mimpi anak-anak. Aku ingin mereka setidaknya mengenangku sebagai guru yang santai dan gak kaku. Yang selalu mempersilakan mereka berpikir dan bercita-cita bebas. Aku akan senang kalau dikenal sebagai guru perempuan mud...

Menghormati Pendahulu

Gambar
Setelah duapuluh tahun lebih LDM-an, akhirnya Mbah Kakung pensiun dan kembali ke kampung halaman, menghayati lakon asalnya sebagai petani. Mbah menghabiskan masa tua dengan bercocok tanam apa saja dan memelihara beberapa ayam kampung. Karena sumber gaji sudah terputus, maka prinsipnya sekarang asal bisa makan sehari-hari saja cukup. Hanya mengandalkan hasil kebun dan ayam yang tidak seberapa untuk memenuhi kebutuhan. Selain bertani, Mbah Kakung juga mengisi waktunya menjadi imam masjid (dalam foto ini dindingnya terlihat tepat di sebelah rumah). Hampir tiap waktu shalat, Mbah melulu yang jadi imam. Entah karena stok anak muda kampung habis sebab merantau, atau karena usianya yang tua, atau mungkin juga karena tinggalnya paling dekat dari masjid, cuma sejengkal (benar-benar sejengkal secara harfiah). Tapi yang paling menyenangkan untuk kuyakini sih, Mbah Kakung terpilih jadi imam karena beliau adalah putra dari Mbah Abdul Karim, yang dulunya juga imam masjid tersebut. Masyarakat kampung...

Obituari Palek Anto

Gambar
Aku mau cerita tentang Palek (=bahasa Jawa untuk menyebut adiknya bapak). Kuberitahu, cerita ini panjang. Kalau mau tahu intinya, skip langsung baca bagian terakhir saja. Tiga hari yang lalu Palek jatuh koma dan masuk RS. Kami sekeluarga besar terkejut. Sesuatu yang buruk mengenai otaknya, hingga butuh operasi bedah otak. Sedihnya, waktu palek ambruk di luar rumah, tidak langsung ditolong orang. Palek dibiarkan di tempat sampai setengah jam kemudian, karena orang-orang takut itu corona. Palek adalah simpul penjaga, rekonsiliator. Yang berinisiatif membuat grup wasap keluarga besar Pacitan (garis bapak) sejak awal-awal wasap trending, mengumpulkan seluruh saudara kandung, keponakan, paman dan sepupunya. Memasukkan kembali anggota yang left karena berdebat. Yang menetralkan suasana grup kalau lagi panas (apalagi musim pemilu kemarin). Pokoknya, Palek mau repot-repot menjaga silahturahmi kami. Palek rajin mengirim pesan apapun bentuknya di grup keluarga besar, entah meme, doa, video lucu,...

Berpisah untuk Bertemu Lagi

Gambar
"Semoga kita bisa bertemu lagi ya, Latifah", kata Fatimah, temanku Misriyah yang fasih dalam bahasa Indonesia. "Insyaallah, suatu saat", entah gimana a ku terkejut dengan jawabanku sendiri. Kalimat template yang harusnya optimis ini mendadak terasa gamang. Hari itu hari terakhir di kuliah, dan kami berjanji akan saling mengunjungi jika nanti datang ke negeri masing-masing. Tidak ada yang meragukan bahwa kami sudah jatuh hati dengan negeri satu sama lain. Aku pernah bercanda bahwa kita hampir bertukar kebangsaan. Mengingat dia sudah jalan-jalan di Indonesia lebih jauh daripadaku, dan sebaliknya, aku sudah jalan-jalan di Mesir lebih banyak daripada dia Jarak Mesir-Indonesia memang jauh, tapi cinta akan membawamu kembali, begitu kata Anggun C Sasmi. Dan aku senang. Di bumi ini, ada yang siap menyambut kapanpun aku kembali

Narasi yang Tidak Sempat Keluar Suaranya

Gambar
Beri perempuan pilihan, terserah dia mau bersuara atau tidak Saya membaca opini Mang Maulana sejak awal mula di beranda status Whatsapp, beliau post dini hari dan kebetulan saya masih terjaga, jadi bisa langsung melihatnya (yang selanjutnya beliau jabarkan menjadi postingan di blog beliau. Setelah membaca status beliau itu, tidak terasa saya menangis sesenggukan. Saya paham betul maksudnya Maulana, sebab setelah beliau bertemu komunitas perempuan cerdas dan vokal di luar sana, setelah membaca beberapa isu kesetaraan dan feminisme, beliau kemudian pasti ingin perempuan kita juga bisa sevokal itu. Saya suka bahwa Maulana menyadari bahwa menjadi vokal bagi perempuan itu keren, dan saya mengapresiasi kesadaran Maulana menemukan bahwa perempuan kita (khususnya masisirwati) masih sunyi. Di saat yang sama saya juga tertampar. Saya merasa banget sebagai pihak yang disindir, karena saya sadar sedikit banyak saya udah punya bacaan, dan dalam beberapa topik lebih banyak tahu daripada yang lain....

Siapa Nama Ibumu?

Kali ini saya ingin mengenang para wanita di atas saya. Para ibu yang menurunkan ibu lagi hingga lahirlah saya. Tapi sedihnya, karena keluarga saya orang biasa saja --bukan konglomerat atau darah biru, jadi tidak ada tradisi mencatat garis keturunan. Maka terhentilah pengetahuan saya hanya pada wanita dua generasi di atas saya. Ibuk dan mbah putri. Iseng saya tanya Ibuk lewat wasap. Buk, waktu Ibuk lahir, masih ada nenek gak? (yang berarti simbah buyutku) Kata Ibuk. Waktu Ibuk lahir masih kayaknya. Tapi nenek yang dari bapak meniggalnya waktu Ibuk masih balita, Ibuk lupa-lupa ingat. Kalau yang dari emak meninggalnya waktu Ibuk sekitar SD. Ya Allah. Saya baru tahu ibuku tidak sempat merasa punya nenek, karena sudah ditinggal mbah dari kecil. Apalagi gak ada bukti foto. "Nama beliau siapa ingat gak buk?" Tanyaku mengejar. "Nenek dari bapak namanya Mbah Sar. Kalau gak salah panjangnya Sarmini. Nenek dari emak namanya Mbah Sumijah. Entahlah ibuk lupaa." Mendadak saya me...

Saat Perempuan Tidak Punya Keinginan

Saya mengenal banyak perempuan yang tidak memiliki keinginan. Beneran. Kalau ditanya: ada gak, hal yang ingin kamu lakukan dalam hidup? Dia akan diam berpikir, lalu menjawab, apa ya? Aku gak pengin apa-apa tuh. Yang penting nanti jadi istri yang solihah dan jadi ibu yang baik buat anak-anak. Lalu jadilah kehidupannya di dalam rumah saja. Sesederhana itu saja ia sudah merasa hidupnya berarti. Entah memang ia plegmatis --meminjam teori kuno kategori kepribadian orang yang berorientasi pada hidup santai nan damai, atau memang ia tidak pernah melihat 'ke luar' sehingga tidak memiliki gambaran apapun tentang betapa menariknya suatu hal maupun kegiatan untuk dicoba. Atau jangan-jangan, sebenarnya bisa saja mereka memiliki keinginan, tapi dibungkam patriarki yang tidak mengizinkan mereka mewujudkan keinginan tersebut. Yang pasti, perempuan-perempuan 'patuh' seperti itu benar ada. Dan beruntungnya, dalam Islam, itu bukan berarti nilai mereka lebih rendah dibanding laki-laki. Mi...

Inspirit Mode

Gambar
(Refleksi Pribadi sebagai Pengagum Boygroup Infinite) Kapan saja saya selesai ujian semesteran kuliah, cara mengembalikan mood untuk kembali beraktivitas lain adalah dengan menyalakan laptop dan melihat kembali video boyband Korea favorit. Namanya barangkali asing bagi penggemar K-pop sekarang: Infinite dari Woolim ent. Saya punya banyak video Infinite dari berbagai segmen, mulai dari movie clip, live concert, dance practice, behind the stage, talk show, reality show sampai cuplikan kegiatan sehari-hari. Kalau kurang ya tinggal sambang Youtube. Meskipun saya punya puluhan lagu mereka di ponsel, namun menonton mereka punya kesan tersendiri. Dan kesan menonton inilah yang saya rasakan terus berubah, seiring bertambahnya usia. Dulu pas masih SMA, saya mengidolakan mereka karena mereka keren banget. Persepsi saya tentang mereka tidak lebih seperti mengagumi robot rupawan dengan cap brand tertentu. Sebagaimana fangirl muda lainnya, waktu itu saya cuma takjub dengan 'kesempurnaan'. K...

Ribetnya Berbohong dan Basa-basi Aneh Soal Status

Gambar
Abaikan model manusia itu, lihat saja taksinya. Hari itu pertama kalinya aku naik taksi sendiri H10-Darasa. Sendirian. Lewat seperempat perjalanan, Pak Supir bertanya apakah saya ingin jalur Sadis atau Shalah Salim. Saya memilih yang lebih cepat. Setelah itu percakapan kami bermula. Pak Supir mengawalinya dengan kebiasaan basa-basi orang Mesir yang menurut saya ajaib, yaitu menanyakan status pernikahan mahasiswa asing. Pak Supir: "Kamu sudah menikah?" Latifah: "Belum." (Menggeleng)

Gawai dan Medsos: Alat Distraksi dan Pemborosan

Gambar
Sudah lewat dua bulan tanpa postingan terbaru. Penyebabnya sepele sekali: terlalu sibuk dengan gawai. Banyak inspirasi yang tadinya sudah semangat sekali untuk ditulis, mendadak hilang karena ada bunyi notifikasi ponsel--biasanya Whatsapp- yang kemudian malah berlanjut lihat-lihat isi ponsel (dasar Latipnya ini mah..). Ujung-ujungnya saya jadi terdistraksi, dan postingan baru itu pun gak jadi-jadi.  Sumber: boredpanda.com Saya baru ngerasain distraksi sebesar ini terutama setelah merasa punya kuota banyak plus lagi liburan. Banyak ide dan inspirasi dari berbagai sudut layarnya, tapi secepat mereka datang secepat itu pula mereka pergi.

Fans Berat Cahaya Rasul-Mayada

Gambar
Saya bukan penikmat musik yang baik, juga bukan orang yang paham unsur-unsur penyusun musik. Saya hanya orang awam yang suka lagu dan musik yang membuat tenang dan merasa dalem ketika mendengarnya. Tau maksud saya? Aduh gimana jelasinnya ya, namanya juga awam T.T Sejak kecil saya sudah kenal dengan shalawatan berbagai versi, mulai dari versi aslinya yang pake rebana dan hadrah, versi orkes yang alat musiknya keyboard doang, sampai gambus yang asik buat goyang. Malah saya akrab dengan mereka jauh lebih dulu sebelum mengenal lagu anak-anak Topi Saya Bundar atau Abang Tukang Bakso.

Vextravity di Kairo

Gambar
  Temen-temen Vextravity, ini lho yang terserak dari kalian. Terdampar jauh tur juauuh ke benua lain. Terseok-seok mengais langkah menuju sebuah perguruan tua, kuno, dan menegangkan.   Belum kenal anak-anak ini? Sama!    Kami dulu di Indonesia juga gak saling kenal. Bahkan masing-masing kami gak tau kalau ternyata ada temen pondok yang juga ke Mesir. Ditambah latar dan kesibukan kami terlalu beragam, tambah asing rasanya.    Vextravity lah yang menyatukan kami. Ahiiw~    Apa itu Vextravity? Gak penting sih. Itu cuma nama angkatan alumni PP Ta'mirul Islam tahun 2014. Jadi, Vextra itu nama angkatannya anak putri, dan Ravity yang putra. Kebetulan bisa digabung, jadi Vextravity. -SKIP-    Nih kenalin.